Minggu, 08 September 2013

resume seminar noven



Bapak Gita Wirjawan adalah seorang Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Ia mengatakan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat 15 besar dunia dalam hal perekonomian. Indonesia membutuhkan pemimpin yang  mampu menjunjung tinggi demokrasi, pluralisme, dan pemerataan. Perekonomian di Indonesia membutuhkan pemimpin dengan kearifan local, kemajuan ekonomi, kesinambungan demokrasi, budaya, dan kemajuan teknologi. Menurut Bapak Gita, jika Indonesia mengalami kenaikan 6% dalam perekonomiannya tiap tahun, dalam 20 tahun, Indonesia sudah akan memiliki uang senilai 600 trilyun dollar amerika. Permasalahan yang sering muncul adalah Indonesia tidak terisi dengan “Merah Putih” (Produk local), kurangnya budaya bangga berbangsa, dan adanya middle incompe trap di Indonesia. Pesan dari Pak Gita Wirjawan adalah “Jadilah Garuda-Garuda yang kreatif, trampil, melek teknologi, berbangsa, dan berbudaya”.

WANADRI adalah perkumpulan penempuh rimba dan pendaki gunung. Kawasan yang telah mereka tempuh adalah bioregional, pulau, pesisir, sungai, kawasan karet, dataran, gunung vulkanik, dan kawasan bersalju. Mereka  juga sering mengalami banyak kendala di antaranya adalah kebudayaan diklaim oleh Negara lain, bencana alam, dan jalur penyebaran budaya. Di dalam WANADRI ini, para anggotanya juga dilatih dalam hal pendidikan, penjelajahan, bakti masyarakat, dan perlindungan alam.

Tri Mumpuni adalah seorang pemberdaya listrik di 60 daerah terpencil di Inonesia. Temanya adalah Integritas & Kompetisi Alumni ITB untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Bangsa. Ia berkata bahwa apabila pengetahuan dan perasaan digabung menjadi satu, maka akan menghasilkan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat. Masalah yang sering muncul adalah ekonomi tanpa peduli kemanusiaan. Solusinya adalah peluruhan visi pembangunan, perubahan paradigm investasi, dan pembatasan pertumbuhan usaha.

Saska adalah seorang pendiri riset indie. Riset indie bergerak di bidang penelitian, social, ekonomi, dan media teknologi. Riset Indie adalah sebuah kelompok penelitian independen. Ada beberapa kegiatan yang telah mereka lakukan, yaitu project polaroid untuk menghidupkan lagi keinginan orang akan kamera polaroid dan project animatronic(penggabungan teknik, desain, dan patung). Ada satu lagi yaitu Angkot Day, yang akan berlangsung pada tanggal 20 September 2013. Tujuannya adalah survey pendapat warga tentang angkot yang tidak ngetem, aman, dan gratis.

resume seminar haris



Acaranya masih berlanjut dengan kedatangan Bapak Gita Wirjawan selaku Menteri Perdagangan Indonesia yang menyampaikan sedikit pidatonya pada kami (mahasiswa baru) dan di akhir kalimat beliau berkata :
                “ Kita harus menggarudakan diri kita dengan kreatif terampil berteknologi dan mempunyai semangat kebangsaan yang selalu menjunjung kearifan lokal”
Setelah itu acara di lanjutkan dengan hadirnya anggota wanadri yang telah sukses mencapai gunung tertinggi yaitu everest dan juga Ibu Tri Mumpuni yang sukses denganpembangunan PLTMH. Dan juga kak Saska yang mempersentasikan Riset Indienya pada kami semua.
Selain nama-nama di atas kami juga kedatangan alumni ITB yang kini menjadi Puteri Indonesia yaitu Maria Selena.
                Acara seminar ini di tutup dengan pertanyaan yang di ajukan pada wadrina juga kak Saska dari riset indie –sekian-

resume seminar diki

Pak Gita yang tampil sebagai pembicara pertama banyak sekali membahas soal keadaan perekonomaian Indonesia maupun dunia. Beliau menyampaikan bahwa tingkat konsumsi bangsa Indonesia, yang bisa berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi, selalu naik setiap tahunnya.  Jika selalu konsisten untuk meningkat sebesar enam persen per tahunnya selama sepuluh tahun, Indonesia bisa menjadi Negara yang maju. Namun, ada kekhawatiran bahwa yang diuntungkan lebih banyak adalah produsen asing, bukan merah putih sendiri.
                Middle income trap adalah salah satu masalah yang juga sedang dihadapi di Indonesia. Middle income trap adalah keadaan dimana Indonesia tidak bisa menghasilkan/memproses sumber daya yang dimilikinya menjadi produk-produk yang dapat bernilai tambah. Hal ini semakin membuat Indonesia tertinggal dari negara-negara di sekitarnya. Pak Gita menyampaikan pesan untuk kami, mahasiswa Institut Teknologi Bandung, untuk menjadi insan-insan akademis yang bisa berteknologi dan berbudaya agar dapat memajukan Indonesia.
                Beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa menjawab tantangan jamannyadan juga bisa responsif dengan permintaan rakyatnya. Produk pendidikan, seperti seorang mahasiswa, adalah senjata baik yang dapat digunakan oleh bangsa Indonesia. Kesimpulan dari apa yang disampaikan oleh beliau adalah jadilah seorang mahasiswa yang kreatif, terampil, berteknologi, memiliki semagat kebangsaaan, dan selalu menjunjung tinggi nilai kearifan lokal.
                Salah satu perwakilan dari organisasi Wanadri yang menjadi pembicara selanjutnya berhasil mengenalkan kekayaan alam yang dimiliki oleh Indoesia kepada para pendengar. Wanadri sendiri adalah sebuah organisasi yang berisikan para penjelajah rimba dan pendaki gunung di Indonesia. Banyak sekali prestasi membanggakan yang pernah ditorehkan oleh para anggotanya dalam menjelajah negeri ini.
                Ibu Tri Mumpuni, seorang pemberdaya listrik yang dianugerahi Aschen Awards 2012, maju sebagai pembicara yang ketiga. Yang disampaikan oleh beliau juga tidak kalah menarik dibandingkan pembicara sebelum-sebelumnya.
                Yang terakhir dan juga yang paling menginspirasi, menurut saya, adalah Saska. Beliau adalah seorang alumni teknik elektro ITB 2002 yang juga merupakan CEO dari Riset Indie. Riset Indie adalah suatu wadah, yang dibuat oleh beliau, yang beranggotakan mereka-mereka yang ingin bersama-sama untuk meneliti atau mengkaji sebuah kejadian atau fenomena ditinjau dari segi sosial, eknomi, politik, maupun lingkungan yang bisa dijadikan sebuah usaha yang berkelanjutan. Riset Indie yang belum lama didirikan ini baru pernah melakukan tiga kali penelitian ; Polaroid, animatronic, dan yang masih dalam proses adalah angkot day.
                Yang banyak menyedot perhatian para pendengar adalah cerita tentang pengalaman beliau sejak berkuliah hingga menjadi beliau yang seperti sekarang ini. “ITB adalah kawah candradimuka yang siap menempa setiap mahasiswa yang menuntut ilmu disana, ITB dapat diumpamakan sebagai rahim yang kemudian dapat melahirkan menusia-manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain dan tentunya diri mereka sendiri”, katanya. Dari apa yang beliau sampaikan, saya menangkap sebuah pesan penting bahwa kita perlu memulai sesuatu untuk memberikan pengaruh dan kontribusi bagi bangsa Indonesia  cukup dari hal yang kecil terlebih dahulu. Yang penting, apa yang kita lakukan setidaknya memberikan dampak untuk menuju ke perubahan yang kita inginkan.

resume seminar heri



Narasumber pertama di seminar ini adalah bapak Gita Wirjawan. Bapak Gita adalah seorang Menteri Perdagangan sekaligus Ketua PBSI. Bapak Gita mengingatkan kita bawah kita, sebagai generasi muda, harus terus memajukan Indonesia. Kita harus meng-garudakan Indonesia sepertia Korea yang meng-gangnam-an diri mereka. Mungkin masih banyak yang berfikir kalau perekonomian Indinesia masih terpusat di pulau Jawa saja, atau malah hanya di Jakarta. Memang, beberapa tahun lalu hanya 9% dari total pendapatan nasional yang berasal dari luar Pulau Jawa. Namun pada tahun 2012, 46% pendapatan Indonesia sudah berasal dari luar Pulau Jawa. Di harapkan, kita bisa terus ikut dalam pembangunan negeri kita tercinta ini.

Narasumber kedua berasal dari WANADRI. Sebuah perhimpunan pecinta alam. Dalam seminar ini kita diingatkan bahwa Indonesia terdiri dari begitu banyak pulau, suku, serta penduduknya yang sangat beragam. Maka dari itu kita harus terus melestarikan apa yang telah Tuhan berikan kepada bangsa kita. Jangan sampai ada bagian-bagian dari alam maupun kebudayaan Indonesia yang diambil oleh negeri lain.

Selanjutnya seminar dilanjutkan oleh narasumber ketiga, ibu Tri Mumpuni. Ibu Tri Mumpuni adalah orang yang sangat peduli dengan sekitar. Dari materi beliau kita diingatkan bahwa tidak semua orang bisa seberuntung kita. Masih banyak desa2 di Indonesia yang tidak memiliki listrik. Padahal desa tersebut berjarak cukup dekat dengan kota besar. Tak jarang juga di lokasi tersebut, sebenarnya terdapat potensi-potensi alam yang dapat dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik. Namun sayang, pemerintah belum memberikan fasilitas yang cukup. Sistem ekonomi di negeri ini pun terasa tidak adil. Ada masyarakat Indonesia yang sudah mampu membeli sebuah perusahaan di luar negeri seharga Rp 6tirlyun. Namun masih banyak juga yang hanya berpenghasilan 20.000 per hari.

Narasumber yang terakhir adalah kak Saska dari Riset Indie. Kak Saska juga merupakan alumnus ITB jurusan Teknik Elektro 2003. Salah satu hasil yang telah diciptakan oleh riset indie ini adalah Alinea. Alinea merupakan robot alien, namun karena robot ini mencerminkan seorang wanita, maka robot ini diberi nama Alinea. Project selanjutnya yang akan diusung oleg riset indie adalah angkot day yang akan di laksanakan pada tanggal 20 September 2013. Angkot day akan men-carter satu trayek angkot kalapa-dago untuk melakukan survey, apa yang dirasakan penumpang saat angkot-angkot tersebut beroperasi secara aman, nyaman, dan tidak "nge-tem". Kak Saska juga mengingatkan kepada kita agar kita tidak takut untuk melakukan kolaborasi dengan orang lain. Karena perubahan bisa datang dari siapa saja, termasuk kita.

Seminar ini ditutup dengan sesi tanya jawab dari peserta dan twitter. Walaupun melelahkan, kita dapat menarik banyak kesimpulan dan manfaat dari serangkaian acara seminar ini. Semoga seminar ini dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi nusa dan bangsa:)